> INFORMASI KEGIATAN: HPMS - MPLS dilaksanakan 13-17 Juni 2026 >>> FOLLOW, LIKE DAN COMMENT AKUN MEDIA SOSIAL SD MARSUDIRINI >>> INSTAGRAM @SDMARSUDIRINIPEMUDA >>> TIKTOK @SDMARSUDIRINI "

Jumat, 17 Juli 2026

Ceria dan Ramah Anak, Siswa SD Marsudirini Pemuda Sambut Tahun Ajaran Baru dengan Semangat Kebersamaan

 SEMARANG – Suasana di Halaman SD Marsudirini Pemuda, Semarang, tampak berbeda dan jauh lebih dinamis selama sepekan penuh pada tanggal 13 hingga 17 Juni 2026. Sebanyak 344 siswa, yang terdiri dari tunas-tunas baru kelas I serta 15 siswa pindahan, secara resmi memulai perjalanan akademis mereka dalam rangkaian Hari Pertama Masuk Sekolah (HPMS) dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Mengusung konsep yang edukatif, aman, dan ramah anak, kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai formalitas administratif, melainkan sebagai peletak batu pertama bagi kesiapan mental dan emosional anak didik untuk bertumbuh sesuai dengan slogan kebanggaan sekolah: ‘Smart Mind, Strong Character’.


Keterlibatan orang tua sejak hari pertama menjadi pilar penting keberhasilan transisi ini. Pihak sekolah sengaja mengundang para orang tua untuk mendampingi buah hati mereka, mengikuti sesi orientasi singkat bersama komite sekolah dan paguyuban wali murid. Langkah strategis ini diambil demi menyelaraskan visi dan misi antara lingkungan rumah dan sekolah, memastikan bahwa tumbuh kembang anak berjalan optimal lewat sinergi yang kokoh.

Ibu Veronika Sri Winarni, selaku Kepala SD Marsudirini, menegaskan komitmen penuh jajarannya untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif dan bebas dari rasa takut. "Kami berkomitmen penuh untuk menghadirkan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi setiap anak. Di sini, mereka tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga dibekali karakter, empati, dan nilai-nilai kebangsaan yang kuat agar siap menghadapi masa depan," ujarnya di hadapan para orang tua dan siswa.


Rangkaian kegiatan selama lima hari tersebut berlangsung dengan sangat terstruktur, menggabungkan aktivitas fisik yang ceria di luar kelas serta penguatan kognitif dan emosional di dalam kelas. Berikut adalah catatan naratif perjalanan edukatif para siswa dari hari ke hari:

Hari Pertama: Gerbang Sambutan, Identitas, dan Kesiapsiagaan

Senin pagi, 13 Juni 2026, gerbang sekolah telah dipenuhi senyum hangat. Petugas dari kelas 6 bersama Mrs Nadya dengan ramah menyapa setiap murid baru yang melangkah masuk ke halaman sekolah. Tepat pukul 07.00 WIB, seluruh peserta berkumpul untuk melaksanakan Apel Pagi yang diawali dengan upacara pengibaran bendera, menyanyikan Mars Marsudirini, serta menggemakan Visi Misi Yayasan Marsudirini. Suasana religius dan khidmat langsung terbangun melalui sesi doa dan renungan pagi.


Setelah sambutan hangat dari Ibu Veronika Sri Winarni yang memaparkan visi besar sekolah, keceriaan mulai memuncak saat lagu jingle ‘Hari Baru’ dan lagu ‘Rukun sama Teman’ dinyanyikan bersama. Melalui sesi ice breaking dan pengenalan diri lewat lagu ‘Aku Istimewa’, para siswa diajak untuk memahami bahwa setiap individu memiliki keunikan dan nilai yang berharga. Setelah melakukan senam pagi untuk membakar semangat, anak-anak diarahkan masuk ke kelas masing-masing. Siswa kelas 1 langsung diajak untuk melakukan school tour (mengenal fasilitas sekolah) serta mendapatkan simulasi kesiapsiagaan bencana, sementara siswa kelas 2 hingga kelas 6 fokus pada perkenalan mendalam dengan wali kelas baru serta pembentukan pengurus kelas.

 

Hari Kedua: Tata Tertib, Kesepakatan, dan Pola Hidup Sehat

Memasuki hari kedua, giliran siswa kelas 5 bersama Bu Redit yang bertugas menyambut kehadiran teman-temannya di depan gerbang. Setelah ritual rutin doa, menyanyikan lagu wajib, dan yel-yel motivasi selesai dilaksanakan, fokus beralih pada pembentukan kedisiplinan dan pembiasaan gaya hidup bersih serta sehat. Pihak sekolah membacakan tata tertib dengan cara yang komunikatif dan menyenangkan.


Salah satu agenda yang paling menarik perhatian adalah sosialisasi makanan sehat melalui lagu ‘Makan Sehat Kita Hebat’ yang bekerja sama dengan Gourmet House. Edukasi ini bertujuan agar anak-anak terbiasa mengonsumsi nutrisi seimbang untuk menunjang konsentrasi belajar mereka. Di dalam kelas, agenda dilanjutkan secara partisipatif dengan penyusunan "Kesepakatan Kelas". Melalui metode ini, aturan kelas tidak lagi bersifat top-down atau memaksa, melainkan lahir dari kesadaran bersama antarsiswa untuk saling menghargai.

Hari Terakhir Paruh Pekan: Pemetaan Kemampuan Berbasis Diagnostik

Hari ketiga dipandu oleh siswa kelas 4 bersama Pak Anang. Pola pembiasaan pagi tetap dijaga untuk membangun konsistensi kedisiplinan. Nilai-nilai moral mulai diinternalisasi lebih dalam melalui pengenalan lagu ‘7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat’. Lagu ini merangkum poin-poin penting mengenai sopan santun, kejujuran, kemandirian, dan tanggung jawab yang harus melekat pada diri seorang pelajar.


Setelah aktivitas fisik berupa senam pagi selesai, para siswa memasuki ruang kelas untuk agenda yang krusial bagi guru, yaitu pelaksanaan tes diagnostik. Instrumen tes ini dirancang khusus oleh masing-masing guru kelas untuk memetakan kemampuan awal, gaya belajar, serta kebutuhan psikologis setiap anak. Melalui data diagnostik yang akurat ini, metode pembelajaran ke depan dapat disesuaikan (diferensiasi) agar tepat sasaran bagi setiap individu anak didik.

Hari Keempat: Perlindungan Diri, Bahaya NAPZA, dan Keadaban Digital

Dipandu oleh siswa kelas 3, Bu Agnes, dan Pak Rendi, hari keempat menjadi ruang edukasi proteksi diri yang sangat penting. Melalui pendekatan seni dan narasi, para siswa diajak memahami batasan fisik dan perlindungan diri lewat lagu ‘Menjaga Diri’ dan ‘Ku Jaga Diriku’. Anak-anak diberikan pemahaman mendasar mengenai bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain, sebuah langkah preventif anti-perundungan (bullying) dan pelecehan sejak usia dini.


Tidak hanya itu, siswa juga diberikan materi mengenai keadaban digital (digital citizenship), di mana mereka diingatkan untuk membatasi waktu bermain game demi menjaga kesehatan mata dan mental. Di dalam kelas, nuansa kebersamaan semakin erat dengan agenda makan bersama makanan sehat. Khusus untuk siswa kelas 3 hingga 6, mereka menyimak dengan serius sebuah cerita interaktif yang disampaikan oleh guru mengenai bahaya NAPZA dengan judul yang sangat relevan: “Permen dari Orang Tak Dikenal”.

Hari Kelima: Puncak Komitmen, Unjuk Bakat, dan Pelepasan Impian

Jumat, 17 Juni 2026, menjadi puncak emosional sekaligus penutup indah dari rangkaian MPLS, yang kali ini dikoordinasikan langsung oleh guru-guru kelas 1 dan 2. Setelah pembiasaan pagi dan menyanyikan lagu-lagu keceriaan, seluruh warga sekolah bersatu merumuskan komitmen bersama berslogan ‘Sekolahku Aman dan Nyaman’. Sebagai bentuk ikatan janji, seluruh siswa, guru, dan staf melakukan prosesi cap tangan bersama di media yang telah disediakan, menyimbolkan tekad kolektif menolak segala bentuk kekerasan dan diskriminasi di lingkungan sekolah.


Kemeriahan berlanjut dengan agenda pengenalan berbagai kegiatan ekstrakurikuler serta sesi unjuk minat dan bakat. Di sini, potensi non-akademis siswa mulai terlihat merona. Sebagai penutup dari transisi ini, dilakukan prosesi penyerahan siswa secara simbolis dari orang tua kepada pihak sekolah. Isak haru dan rasa bangga menyelimuti halaman sekolah saat ratusan balon berwarna-warni dilepaskan ke udara secara serentak. Balon-balon yang membumbung tinggi tersebut merepresentasikan cita-cita, harapan, dan doa yang digantungkan setinggi langit oleh setiap siswa, orang tua, dan guru di SD Marsudirini Pemuda.

Melalui pelaksanaan HPMS dan MPLS yang terstruktur secara matang, komprehensif, dan humanis ini, 351 siswa SD Marsudirini Pemuda kini tidak hanya dinyatakan siap melangkah secara akademis. Lebih dari itu, mereka telah mengantongi kesiapan mental yang tangguh, bekal emosional yang matang, serta rasa kekeluargaan yang erat untuk mengarungi gerbang petualangan belajar yang baru di masa depan.(P.3)

 


Rabu, 24 Juni 2026

Sambut Tahun Ajaran Baru, 97 Pendidik Yayasan Marsudirini Poncol Semarang Ikuti Rekoleksi Bersama Romo Abdi

SEMARANG – Menjelang dimulainya tahun pelajaran 2026/2027, Yayasan Marsudirini Perwakilan Poncol Semarang menggelar kegiatan rekoleksi rohani bagi seluruh elemen pendidik dan tenaga kependidikan. Acara yang berlangsung pada Selasa (23/6/2026) kemarin ini bertempat di Aula Marsudirini, Jl. Pemuda, Semarang, dan diikuti oleh 97 peserta yang terdiri dari jajaran Dosen, Guru, serta Karyawan.

Para peserta merupakan representasi dari berbagai instansi pendidikan di bawah naungan Yayasan Marsudirini Poncol, meliputi TK Kanak-Kanak Yesus, SD Marsudirini Pemuda, SMP Maria Goretti, dan Akademi Sekretari dan Manajemen (ASM) Santa Maria. Rekoleksi ini menghadirkan Romo Abdi dari Ambarawa sebagai pembimbing utama spiritual.

Mengisi Kembali "Daya" Rohani Pendidik

Kegiatan yang dimulai tepat pukul 08.30 WIB ini mengusung atmosfer yang reflektif namun penuh semangat kebersamaan. Dalam pemaparannya, Romo Abdi memberikan analogi yang sangat relevan dengan kehidupan modern untuk menggambarkan esensi dari rekoleksi ini.

Seorang pendidik itu ibarat sebuah ponsel pintar (HP). Setiap hari ia digunakan untuk melayani, membagikan ilmu, dan membimbing para siswa. Namun, secanggih apa pun ponsel tersebut, ia pasti akan kehabisan baterai. Oleh karena itu, pendidik membutuhkan 'listrik' spiritual untuk dicas kembali agar dayanya pulih.

Romo Abdi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara performa profesional dan kesehatan rohani. Pengisian daya spiritual ini dinilai krusial agar para dosen, guru, dan karyawan memiliki kesiapan mental serta kelimpahan kasih dalam menyambut hakikat pelayanan pada tahun pelajaran yang baru.

 

Sinergi dan Sambutan Positif Peserta

Kegiatan ini mendapat respons yang sangat positif dari seluruh peserta. Setelah melewati rutinitas mengajar yang padat pada semester sebelumnya, momen rekoleksi ini dinilai menjadi oase yang menyegarkan. Para guru dan dosen diajak untuk melihat kembali panggilan hidup mereka bukan sekadar sebagai profesi, melainkan sebagai bentuk pelayanan kasih kepada anak-anak didik.

Perbedaan jenjang institusi—mulai dari pendidikan anak usia dini (TK) hingga perguruan tinggi (ASM)—tidak menjadi sekat, melainkan memperkaya perspektif bersama dalam memajukan mutu pendidikan Katolik di Semarang khususnya Yayasan Marsudirini.

Puncak Acara: Perayaan Misa Kudus

Rangkaian kegiatan rekoleksi yang berlangsung sersan (serius tapi santai) ini resmi berakhir pada pukul 13.30 WIB. Puncak dari seluruh rangkaian acara ditutup dengan Perayaan Misa Kudus yang dipimpin langsung oleh Romo Abdi.

Dalam khotbah penutupnya, Romo Abdi kembali meneguhkan seluruh peserta agar berani melangkah dengan semangat baru. Dengan "baterai" rohani yang telah terisi penuh, keluarga besar Yayasan Marsudirini Perwakilan Poncol Semarang kini siap mendampingi dan mengukir prestasi bersama para siswa di tahun pelajaran 2026/2027. (P3-Humas)


Jumat, 22 Mei 2026

Menginspirasi Lewat Rasa: Siswa Kelas 1 SD Marsudirini Pemuda Belajar Profesi Koki dan Kreasi Membuat Mie Goreng Bersama Orang Tua

SEMARANG – Suasana halaman SD Marsudirini Pemuda pada Kamis pagi, 22 Mei 2026, tampak berbeda dan jauh lebih meriah dari biasanya. Puluhan siswa kelas 1 yang mengenakan seragam olahraga bernuansa biru cerah berkumpul dan duduk rapi di area luar kelas. Bukan untuk berolahraga, melainkan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran luar kelas (outdoor learning) yang edukatif sekaligus menggugah selera.

Kali ini, para siswa diajak untuk mengenal lebih dekat dunia profesi, dengan fokus utama pada profesi Koki (Chef). Demi memberikan pengalaman belajar yang nyata dan berkesan, pihak sekolah berkolaborasi aktif dengan melibatkan perwakilan orang tua siswa untuk menyukseskan agenda kreatif ini.

Menghadirkan Pengalaman Nyata di Luar Kelas

Pembelajaran mengenai pengenalan profesi merupakan bagian penting dari kurikulum untuk membuka wawasan anak sejak dini. Dibandingkan hanya melihat gambar di dalam buku teks, SD Marsudirini Pemuda memilih metode interaktif dengan membawa proses memasak langsung ke hadapan anak-anak.

Di bagian depan halaman, sebuah dapur terbuka dadakan telah disiapkan lengkap dengan meja, kompor gas, wajan besar, serta berbagai bahan makanan yang sudah dipotong rapi di dalam wadah-wadah transparan. Enam orang ibu perwakilan orang tua siswa tampil kompak sebagai "Koki Hari Ini", lengkap dengan celemek kuning dan sarung tangan higienis, siap mendemonstrasikan keahlian mereka.

Kegiatan dibuka dengan penjelasan interaktif dari guru pendamping yang memegang mikrofon, memperkenalkan apa itu profesi koki, apa saja tugasnya, hingga pentingnya menjaga kebersihan saat mengolah makanan. Salah satu momen menarik adalah ketika guru menunjukkan botol saus dan kecap sebagai salah satu "senjata rahasia" koki dalam menciptakan rasa masakan yang lezat.

Antusiasme Tinggi Saat Mengintip Rahasia Membuat Mie Goreng

Menu yang dipilih dalam praktik memasak kali ini adalah hidangan yang sangat akrab dan menjadi favorit anak-anak: Mie Goreng.

Begitu proses memasak dimulai, antusiasme anak-anak langsung memuncak. Pandangan mereka tak lepas dari wajan besar di depan. Mereka menyaksikan dengan saksama setiap tahapan memasak, mulai dari:

  • Mengenal bahan-bahan seperti mie, sayuran hijau, wortel, dan bumbu halus.

  • Melihat bagaimana bumbu ditumis hingga mengeluarkan aroma harum yang menggoda.

  • Menyaksikan teknik mengaduk (stir-frying) semua bahan di dalam wajan secara merata.

Asap tipis yang mengepul dari wajan ditambah aroma gurih yang merebak di udara halaman sekolah spontan memicu sorak-sorai ceria dari para siswa. Beberapa anak bahkan terlihat condong ke depan dan menjulurkan leher karena rasa penasaran yang begitu besar, sementara yang lain berbisik antusias kepada teman di sebelahnya tentang betapa tidak sabarnya mereka untuk mencicipi hasil masakan.

Sinergi Positif Antara Sekolah dan Orang Tua



Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari peran serta dan sinergi yang kuat antara pihak sekolah dan orang tua murid. Keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran dinilai memberikan dampak psikologis yang positif bagi anak-anak, sekaligus mempererat hubungan silaturahmi antar-komunitas sekolah.

"Melalui kegiatan outdoor learning ini, kami ingin anak-anak tidak hanya tahu nama profesinya, tetapi juga menghargai proses di balik sebuah pekerjaan. Kehadiran orang tua sebagai mentor memasak hari ini membuat suasana belajar jadi jauh lebih hangat, hidup, dan menyenangkan bagi anak-anak," ujar salah satu guru pendamping di sela-sela kegiatan.

Melalui pengalaman langsung ini, para siswa kelas 1 SD Marsudirini Pemuda diharapkan dapat memetik banyak pelajaran berharga—mulai dari kemandirian, mengenal nutrisi makanan sehat, hingga menumbuhkan rasa hormat terhadap setiap profesi, termasuk mereka yang bekerja keras di dapur untuk menyajikan makanan lezat setiap hari.

Kegiatan ditutup dengan keceriaan bersama, meninggalkan kesan mendalam dan cerita seru yang pastinya akan dibawa pulang oleh anak-anak ke rumah masing-masing. (Red)