SEMARANG — Menjadi seorang pendidik bukan sekadar profesi yang menuntut rutinitas administratif dan transfer pengetahuan di ruang kelas, melainkan sebuah panggilan luhur yang berakar dari hati. Kesadaran mendalam inilah yang menggerakkan sebanyak 23 guru Sekolah Dasar (SD) Marsudirini untuk melangkah sejenak meninggalkan kesibukan rutinitas harian demi mengikuti kegiatan retret rohani yang diselenggarakan oleh Yayasan Marsudirini.
Kegiatan retret tahun ini menghadirkan nuansa dan format yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Diselenggarakan selama tiga hari penuh, yakni pada tanggal 2 hingga 4 November, retret kali ini dirancang berbasis kelompok usia dengan pembagian lokasi yang disesuaikan. Sebanyak 6 guru dengan usia di atas 45 tahun mengikuti retret di Rumah Retret Pangestiwening, Ambarawa. Sementara itu, 17 guru lainnya yang berusia di bawah 45 tahun mengikuti rangkaian retret di Griya Asisi, Bandungan.
Meskipun terbagi di dua tempat yang berbeda keindahan panorama alamnya, kedua kelompok pendidik ini menerima pembinaan rohani yang mendalam dan terarah di bawah bimbingan Romo Agustinus Parso Subroto, MSF. Dengan mengusung tema utama "Guru yang Bahagia, Menginspirasi, dan Melayani", kegiatan ini menjadi momentum retret penyegaran jiwa bagi para pendidik untuk merajut kembali esensi dasar pengabdian mereka di dunia pendidikan.
Panggilan Hidup, Bukan Sekadar Pekerjaan
Dalam sesi pembuka retret, Romo Agustinus Parso Subroto, MSF, mengajak para guru untuk melakukan napak tilas batin, merenungkan kembali akar keputusan mereka dalam memilih jalan hidup sebagai pendidik. Romo Parso menegaskan bahwa seorang guru hakikatnya adalah sebuah panggilan hidup, sehingga para pendidik diajak untuk kembali menemukan sukacita panggilan tersebut.
"Guru bukanlah sekadar pekerjaan atau profesi mencari nafkah, melainkan sebuah bentuk keikutsertaan ambil bagian dalam karya keselamatan," pesan Romo Parso di hadapan para guru yang mengikuti retret dengan penuh khidmat.
Melalui pemaparan tersebut, para peserta diajak untuk melepaskan beban-beban administratif dan rutinitas mekanis yang kerap menggerus semangat awal. Dengan menyadari kedudukan guru sebagai sebuah panggilan suci, diharapkan setiap tenaga pendidik mampu memandang ruang kelas, rekan sejawat, dan peserta didik sebagai ladang pengabdian yang bernilai kekal.
Menggali Kebahagiaan dari Dalam Diri (Bahagia dari Dalam)
Memasuki sesi kedua, retret mengangkat topik yang sangat relevan dengan realitas dunia pendidikan masa kini, yaitu "Bahagia dari Dalam". Romo Parso secara terbuka memantik refleksi bahwa profesi sebagai seorang guru bukanlah hal yang mudah. Kompleksitas tantangan zaman, dinamika peserta didik, serta tuntutan kurikulum sering kali menjadi sumber tekanan tersendiri.
Oleh karena itu, sesi ini difokuskan agar para guru mampu mencapai beberapa tujuan krusial:
Memahami sumber kebahagiaan sejati yang tidak bergantung pada faktor eksternal semata.
Membedakan hal-hal yang dapat dikendalikan oleh guru dan hal-hal di luar kuasa mereka, sehingga energi mental tidak habis untuk kekhawatiran yang sia-sia.
Mengembangkan ketahanan batin (resilience) dalam menghadapi berbagai dinamika tantangan sekolah.
Belajar mengelola emosi dengan bijak agar senantiasa menghadirkan energi positif di lingkungan satuan pendidikan.
Kebahagiaan seorang pendidik dipandang sebagai fondasi utama. Guru yang bahagia akan secara natural memancarkan energi positif, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta menjadi teladan hidup bagi anak-anak didik mereka di sekolah.
Bela Rasa, Melihat dengan Hati, dan Mendidik dengan Kasih
Pada bagian pendalaman berikutnya, Romo Parso memberikan perenungan mendalam mengenai pentingnya memiliki semangat bela rasa. Menjadi seorang guru menuntut kemampuan untuk melihat persoalan anak didik bukan sekadar dengan mata kepala, melainkan dengan hati nurani, serta mendidik mereka dengan ketulusan kasih.
Perenungan ini memiliki tujuan mulia agar para guru mampu menghayati panggilannya secara utuh, mengembangkan potensi peserta didik secara maksimal, serta menumbuhkan kepekaan sosial. Dalam pelayanan pendidikan di lingkungan Yayasan Marsudirini, makna belas kasih diletakkan sebagai inti dari seluruh proses pelayanan. Kasih yang tulus menjadi jembatan penghubung antara guru dan murid, menembus batas-batas perbedaan karakter setiap anak.
Ruang Refleksi, Sharing Kelompok, dan Komitmen Perubahan
Retret ini tidak hanya diisi dengan ceramah atau pendengaran pasif, melainkan dirancang secara interaktif. Pada setiap akhir sesi, para guru diminta untuk merenungkan materi yang telah disampaikan, menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif secara mandiri, dan kemudian membagikannya (sharing) dalam kelompok-kelompok kecil.
Suasana kebersamaan dan keterbukaan tampak begitu kental dalam sesi sharing tersebut. Para guru saling mendengarkan pengalaman, pergumulan, dan harapan rekan sejawat mereka, yang sekaligus mempererat tali persaudaraan antar pendidik SD Marsudirini. Ruang dialog ini memberikan kelegaan batin sekaligus memperkuat solidaritas kolektif sebagai satu keluarga besar yayasan.
Penyelenggaraan retret di Rumah Retret Pangestiwening Ambarawa dan Griya Asisi Bandungan ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Harapan besar kini disematkan tatkala para guru kembali ke sekolah masing-masing. Dari ketenangan suasana Bandungan dan Ambarawa, terselip asa agar nilai-nilai rohani yang diperoleh dapat diterapkan dan diaplikasikan secara nyata dalam keseharian mengajar.
Para guru berkomitmen untuk membawa angin perubahan dalam memberikan pelayanan pendidikan — melangkah dengan hati yang lebih tenang, penuh sukacita, siap menginspirasi, serta menghadirkan pembentukan karakter yang berbelas kasih bagi generasi penerus bangsa di SD Marsudirini. (P3)
.jpeg)
.jpeg)